Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Munculnya Kejahatan

Kejahatan tidak semakin sedikit setiap tahun, malah meningkat. Penyebabnya adalah penurunan moral manusia dan keengganan untuk mengikuti aturan, norma, dan etika yang sudah ada sejak lama. Hal ini terjadi di semua golongan sosial, pendidikan, dan tingkat ekonomi, baik di desa maupun di kota besar. Bahkan dalam lingkungan agama pun tidak lepas dari masalah ini, meskipun pemahaman tentang dosa dapat berbeda. Ada yang melihat tindakan tertentu sebagai dosa, sementara di tempat lain, tindakan tersebut dianggap sebagai kesalahan yang biasa. Alkitab menjelaskan tentang dosa dengan jelas, tetapi cara penerapannya dalam setiap gereja bervariasi. Beberapa gereja membedakan antara dosa besar dan kecil, yang mulai menciptakan toleransi terhadap dosa. Selain itu, ada yang menekankan pentingnya toleransi terhadap dosa, dengan alasan bahwa manusia masih berada dalam kondisi fisik yang lemah. Oleh sebab itu, jika seseorang jatuh ke dalam dosa, itu dianggap biasa dan Tuhan pasti akan mengampuni. Konsep anugerah Allah juga sering digunakan sebagai alasan untuk membenarkan tindakan berdosa manusia.

Topik mengenai dosa sangat penting karena penebusan oleh Kristus dikarenakan munculnya dosa akibat pilihan yang diambil oleh manusia. Adam dan Hawa adalah manusia pertama yang melakukan kesalahan ini, dan dampaknya terus berlanjut hingga saat ini. Perjanjian Lama memberikan pemahaman mendalam tentang dosa, karena berkaitan dengan berbagai topik lain seperti janji Allah, kekudusan, ibadah, dan hukum Taurat, dan sebagainya. Untuk memahami dengan benar dan sesuai Alkitab mengenai Perjanjian Lama, makalah ini akan dimulai dengan membahas definisi dosa, asal mula dosa, karakteristik dosa, dan dampak dari dosa tersebut.

 

Definisi Dosa dalam Perjanjian Lama

Dalam Perjanjian Lama, terdapat istilah mengenai dosa yang dapat dijelaskan melalui delapan kata dalam bahasa Ibrani, antara lain:

Khata: Ini berarti tidak mencapai tujuan atau mengenai sasaran yang berbeda. (Keluaran 20:20, Hakim-hakim 20:16, Amsal 8:36;19:2)

Ra: Kata ini memiliki arti menghentikan atau merusak. (Kejadian 3:5;38:7; Hakim-hakim 11:27; Yesaya 45:7)

Pasha: Istilah ini berarti pemberontakan atau pelanggaran. (1 Raja-Raja 12:19; 2 Raja-Raja 3:5; Amsal 28:21; Yesaya 1:2)

Awon: Menyiratkan kesalahan dalam tindakan serta perasaan bersalah. (1 Samuel 3:13; Yesaya 53:6; Bilangan 15:30-31)

Shagag: Berarti kesalahan atau penyimpangan. (Yesaya 28:7; Imamat 4:2; Bilangan 15:22)

Asham: Terkait dengan kesalahan yang dilakukan di Bait Allah atau Tabernakel. (Imamat 4:13; 5:2-3)

Taah: Mewakili penyimpangan atau kesesatan yang dilakukan dengan sengaja. (Bilangan 15:22; Mazmur 58:4; 119:21; Yesaya 53:6; Yehezkiel 44:10,15)

Rasha: Menggambarkan kejahatan dan menjadi kebalikan dari kebenaran. (Keluaran 2:13, Mazmur 19:7; Amsal 15:9)

 

Dari penjelasan tersebut, bisa disimpulkan mengenai pengertian dosa dalam Perjanjian Lama sebagai berikut.

Pertama, dosa dapat muncul dalam berbagai bentuk dan karena variasi kata tersebut, seorang Israel dapat mengenali jenis dosa yang dilakukannya.

Kedua, dosa berlawanan dengan norma, dan pada dasarnya adalah ketidakpatuhan kepada Tuhan.

Ketiga, karena ketidakpatuhan melibatkan pikiran positif dan negatif, dosa adalah tindakan aktif terhadap kesalahan, bukan hanya sekadar penolakan pasif terhadap hal yang benar. Dosa tidak hanya mencakup tindakan yang gagal mencapai tujuan, tetapi juga tindakan yang mengarah pada tujuan yang salah.

Dengan lebih jelas, dosa dalam Perjanjian Lama adalah sebuah tindakan yang melawan peraturan Tuhan, sehingga mengarah pada sasaran yang tidak benar dan menjauhkan dari kebenaran-Nya.

 

Asal mula Dosa

Secara ringkas, asal mula dosa berawal dari kejadian Adam dan Hawa di Taman Eden. Ketika iblis bertanya kepada Hawa, "Semuanya di taman ini boleh kamu makan, bukan? " (Kej. 3:1), ini adalah pertanyaan pertama dalam Alkitab yang membuat Hawa ragu akan Firman Allah. Dalam konteks masa kini, Hawa mungkin akan bertanya, "Apakah Allah benar-benar berkata ...? " Keberadaan pertanyaan ini mencerminkan pokok permasalahan yang mendasari dosa. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa keraguan manusia terhadap Firman Allah adalah penyebab jatuhnya manusia ke dalam dosa.

 

Terdapat beberapa pandangan penulis yang mencoba mendefinisikan asal mula dosa, yaitu:

Pertama, Millard J. Erikson menyatakan bahwa sumber dosa berasal dari keinginan manusia itu sendiri. Menurutnya, dosa muncul dari keinginan tersebut sebagai sarana untuk pencobaan. Ia mengelompokkan tiga keinginan utama manusia yang menjadi alat dosa, yaitu keinginan untuk menikmati, memiliki, dan bertindak. Contoh keinginan untuk menikmati terlihat dari pengalaman Adam dan Hawa, ketika Hawa melihat bahwa buah dari pohon itu enak untuk dimakan dan menarik bagi matanya (Kej. 3:6). Sedangkan keinginan untuk memiliki dan bertindak tercermin dalam perintah menguasai bumi (Kej. 1:28).

Kedua, menurut Henry C. Thiessen, dosa berasal dari keputusan Adam untuk secara sadar memakan buah pengetahuan tentang kebaikan dan kejahatan. Ini adalah pilihan yang diambil oleh manusia, apakah mereka akan taat kepada Allah atau tidak. Dalam situasi ini, Tuhan memberikan dua pilihan baik kepada manusia: pohon kehidupan dan pohon pengetahuan. Pohon pengetahuan itu baik dan buahnya pun baik, karena diciptakan Tuhan; namun ketidaktaatanlah yang menyebabkan kematian. Oleh karena itu, sumber dosa adalah ketidaktaatan manusia terhadap perintah Allah, di mana keinginan menjadi faktor pendukung.

Ketiga, William Dryness berpendapat bahwa dosa dimulai dari pelanggaran terhadap aturan yang ditetapkan oleh Allah, terkait dengan larangan memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Adam dan Hawa mengambil keputusan ini dengan bebas dalam Kejadian 3, walaupun ada pengaruh luar yang mencoba mereka. Dalam Perjanjian Lama, tidak ada kejelasan apakah itu iblis sendiri atau hanya perantara yang berupa ular. Cara ular mempengaruhi manusia dapat dilihat dalam Kejadian 3:1, di mana Hawa dibuat ragu terhadap kebaikan Allah sehingga ia tidak hanya merasa ragu, tetapi juga menolak larangan Allah. Dari berbagai pandangan tersebut, asal mula dosa terlihat jelas berasal dari Adam dan Hawa berdasarkan peristiwa yang terjadi, namun Perjanjian Lama tidak mencatat secara spesifik asal atau sumber dosa itu sendiri. Harun Hadiwijono mengemukakan, "asal-usul dosa tidak dapat dijelaskan, karena Alkitab tidak memberi panduan tentang asal dosa, tetapi mengarahkan umatnya pada pengakuan dosa. " Tujuan dari pengakuan dosa ini adalah untuk memberikan harapan akan janji penebusan seperti yang dicatat dalam Kejadian 3:15.

 

Sifat-sifat dosa dalam Perjanjian Lama

Sifat Teologis: Dosa selalu berhubungan dengan maksud-maksud Allah yang suci. Dalam kitab Perjanjian Lama, terlihat jelas bahwa sifat dan tindakan manusia mempengaruhi posisi mereka di hadapan Allah. Dosa menjadi penghalang untuk mendapatkan kebaikan dari hati Allah.

Sifat Objektif: Dosa memiliki objektivitas yang terlihat melalui kesadaran akan adanya dosa itu sendiri. Contohnya bisa dilihat dalam Ulangan 21:1-9, di mana kesalahan yang tidak disengaja tidak boleh diabaikan. Dalam Bilangan 35:33, dinyatakan bahwa kesalahan itu membuat tanah menjadi tidak bersih, sehingga tebusan perlu dilakukan (1 Samuel 14:34-35). Ini menunjukkan adanya norma-norma keadilan yang tercermin dalam tatanan ciptaan serta yang tercantum dalam pengungkapan hukum Allah.

Sifatnya yang pribadi dan sadar: Meskipun dosa bisa terjadi tanpa disengaja, keberadaan dosa itu disebabkan oleh hati yang memberontak terhadap Allah. Emil Brunner menyatakan bahwa setiap kondisi fisik seseorang mencerminkan suatu revolusi yang tidak pernah berhenti. Sifat pribadi dijelaskan dalam kitab para nabi, di mana pemahaman akan kesempurnaan sifat Allah semakin dalam dan rasa tanggung jawab individu di hadapan Allah semakin tajam. Secara sadar, individu membuat berhala-berhala yang berusaha mengambil posisi Allah, karena dosa adalah tindakan merancang kehidupan pribadi tanpa melibatkan Allah (Yesaya 30:1; Hosea 13:2).

Sifat Universal: Dosa bersifat universal karena telah merasuki karakter manusia dan seluruh umat di mana saja, serta mempengaruhi segala hal yang kita lakukan (Kejadian 6:5). Bahkan kebaikan kita juga ternodai oleh kejahatan ini (Yesaya 64:6).

Sifat dosa yang sudah tetap: Dosa digambarkan sebagai elemen yang tak terpisahkan dari ciptaan yang telah jatuh, sehingga sifat dosa itu tetap ada. Nabi Yeremia menulis dalam kitabnya bahwa dorongan untuk berbuat dosa serupa dengan naluri hewan jantan (Yeremia 6:7, 13:23; 2:24-25).

Ada beberapa dampak utama dari dosa bagi setiap pelakunya, yaitu:

Pertama, rasa bersalah: Seseorang berada dalam posisi yang memungkinkan dia mendapatkan hukuman dari Allah atau layak menerima kemarahan-Nya, dan keadaan ini bersifat pribadi antara individu dan Allah. Keadaan ini muncul akibat sifat berdosa dari orang tersebut atau tindakan ketidaktaatan yang dilakukan. Ini adalah keadaan yang objektif, di mana kadang-kadang diakui dan kadang-kadang tidak, baru terlihat sebagai kesalahan setelah menerima hukuman (2 Samuel 21:1). Namun, Allah tidak akan melupakan dosa tersebut (Yosua 22:22; Hosea 13:12). Rasa bersalah ini melibatkan isi hati dan memengaruhi seluruh aspek kehidupan seseorang yang berdosa (Amsal 4:23).

Kedua, hilangnya hubungan dengan Allah: Dosa dan rasa bersalah membuat seseorang berusaha menjauh dari kehadiran Allah. Dosa menimbulkan rasa takut, bukan kasih. Ketika Allah mendekat, orang itu menyembunyikan diri di antara pepohonan di taman (Kej. 3:8). Sifat manusia telah mengalami kerusakan. Hubungan manusia dengan Allah telah terputus, dan mereka kehilangan citra serta rupa Allah yang merupakan kebenaran sejati. Mereka memutuskan ikatan dengan sumber kehidupan dan berkah, yang menghasilkan keadaan kematian rohani.

Ketiga, hukuman: Ini merupakan konsekuensi pasti dari dosa (Bilangan 32:23) dan mengandung unsur pemisahan dari Allah (Yesaya 59:2). Seseorang yang berdosa tidak bisa mendekati Allah (1 Samuel 14:37-41). Hukuman yang paling menakutkan adalah dihapuskan dari kitab kehidupan (Mazmur 69:29) dan terjebak di Sheol (Mazmur 49:15). Dalam Perjanjian Lama, kematian selalu dianggap sebagai hasil dari dosa, mencerminkan sesuatu yang tidak seharusnya terjadi di dunia ini, yang hanya bisa ditaklukkan oleh Allah. Kematian adalah inti dari hukuman dosa. Allah sudah mengingatkan manusia tentang hal ini sebelumnya (Kej. 2:17). Kematian merupakan bentuk langsung dari kutukan ilahi kepada manusia yang berdosa (Kej. 3:19). Kemudian, terkait dengan asal mula dosa pada poin A, kita melihat bahwa pelaku dosa menerima hukuman.

Kepada Adam dan pria dalam Kejadian 3:17, ia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Kepada Hawa dan wanita dalam Kejadian 3:16, ia akan merasakan sakit saat melahirkan, terikat pada suaminya, dan akan dikuasai oleh pria.

Kepada ular dalam Kejadian 3:14, ia dikutuk untuk merayap dan ini akan terus berlaku bahkan ketika Kerajaan Seribu Tahun Damai tiba (Yesaya 65:25).

Kepada hubungan manusia dengan hewan (Kejadian 3:17-19), Adam dan Hawa diusir dari taman dan dipaksa untuk berjuang sendiri di dunia yang terkutuk. Pada awalnya, mereka tinggal di lingkungan yang paling indah dan sempurna; kini mereka harus tinggal dalam kondisi yang tidak sempurna dan keras. Lingkungan mereka jelas berubah karena dosa. Conner juga mengemukakan pendapat serupa tentang Allah yang mendatangkan penghakiman kepada bumi. Bumi dikutuk dengan tanaman berduri yang memengaruhi hewan menjadi liar, agresif, dan melawan kekuasaan manusia.

 

Selain dua dampak di atas, ada dua konsekuensi lain dari dosa Adam dan Hawa:

Setiap dosa berdampak pada orang lain: Dosa Hawa memengaruhi Adam dan meluas kepada seluruh umat manusia. Tak seorang pun berdosa tanpa memengaruhi orang lain.

Sekali melakukan kesalahan, dampaknya tidak akan bisa dihilangkan : Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden dan tidak bisa dikembalikan; Esau kehilangan hak kesulungan yang dijualnya untuk semangkuk sup merah kepada Yakub yang merupakan saudaranya; Musa tidak diperbolehkan masuk ke Tanah Perjanjian karena kesalahannya (Bilangan 20:12; Ulangan 3:27), dan masih banyak contoh lainnya. Jadi, dari beberapa poin yang telah dibahas mengenai dosa dalam Perjanjian Lama, kita dapat menarik kesimpulan bahwa dosa bertentangan dengan rencana Tuhan. Dosa telah merusak citra Allah di dalam diri manusia. Dosa juga telah merusak hubungan antara Allah dengan manusia dan seluruh ciptaan-Nya. Dosa menjadikan Allah terpisah dari manusia, dan manusia harus menghadapi kemarahan Tuhan yang berupa kematian, tetapi di sini kita juga melihat keadilan Tuhan. Memahami makna dosa, sejarah awal dosa, karakteristik dosa, dan konsekuensi dosa dalam Perjanjian Lama membekali kita di zaman ini untuk menjauh dari dosa karena tidak ada satu pun ayat dalam Alkitab yang menunjukkan manfaat dari melakukan dosa. Untuk menutup pembahasan tentang konsep dosa dalam Perjanjian Lama, penting untuk memberikan penjelasan tentang contoh-contoh dosa yang telah kita lakukan dengan membaginya menjadi dua kategori berdasarkan sepuluh perintah Allah (Keluaran 20:1-46), yang masih sering terjadi hingga saat ini.

 

Dosa kepada Allah

Menyembah berhala: Memilih untuk menyembah berhala daripada Allah, di mana praktik penyembahan ini di masa lalu mirip dengan pemujaan kepada dewa-dewa Baal. Namun, di zaman sekarang, penyembahan berhala dapat berlangsung tanpa disadari oleh pelakunya, seperti ketika seseorang menganggap uang sebagai hal terpenting dari segalanya.

Menyebut nama Tuhan dengan tidak hormat: Sumpah sering digunakan oleh orang-orang untuk meyakinkan orang lain tentang suatu pernyataan. Sayangnya, ada juga yang mengucapkan sumpah dengan menggunakan nama Tuhan, bahkan ada yang bersumpah dengan tidak jujur, menganggap remeh nama Allah. Ini menunjukkan ketidak hormatan dalam menyebut nama-Nya yang bisa dilakukan tanpa rasa segan.

Meninggalkan Gereja secara perlahan: Dalam sepuluh perintah Allah, perlahan-lahan meninggalkan Gereja serupa dengan tidak menguduskan hari Tuhan. Melakukannya juga menjadi indikasi bahwa kita mulai kehilangan kepercayaan kepada Tuhan atau merasa tidak memerlukannya lagi, dan sikap ini melukai hati-Nya.

Meragukan Tuhan: Meragukan Tuhan sering kali tidak kita sadari, karena bahkan tindakan sederhana bisa membuat kita berbuat demikian. Contoh yang jelas adalah menyontek. Kita mungkin telah belajar dengan baik, tetapi masih merasa ragu saat ujian, sering lupa bahwa Tuhan selalu ada dalam setiap usaha kita. Nilai buruk pun tidak selalu berarti sesuatu yang negatif, karena kita bisa belajar dari kesalahan yang kadang tidak kita sadari sebelumnya.

Dosa kepada sesama manusia Artinya: Tidak menghormati ibu dan bapak: Orang tua kita adalah dua sosok yang sangat ingin keberadaan kita. Apa pun yang mereka lakukan, tanpa mereka, kita tidak akan ada di dunia ini untuk berjuang dalam kehidupan abadi di surga. Sebagai tanda balas kasih mereka, kita seharusnya menghormati orang tua kita, atau setidaknya berusaha untuk tidak melakukan atau berkata sesuatu yang dapat menyakiti mereka.

Membunuh: Tindakan ini biasanya dipicu oleh kemarahan, kebencian, dan dendam terhadap apa yang telah dilakukan oleh orang lain. Meskipun orang lain mungkin menyakiti kita, hal ini tidak berarti kita tidak memiliki kemampuan untuk memaafkan dan mencintai mereka, sama seperti Allah mengasihi umat Israel meskipun mereka sering kali sangat keras kepala.

Mencuri: Ini adalah tindakan di mana kita mengambil barang orang lain tanpa izin pemiliknya dan menganggapnya sebagai milik pribadi. Banyak alasan yang mendorong tindakan pencurian, seperti rasa iri dan lain-lain. Tindakan ini merugikan dua pihak, yaitu korban pencurian dan si pencuri. Oleh karena itu, penting untuk bersyukur atas apa yang kita miliki setiap hari dalam hidup ini.

Berzinah: Ini adalah tindakan ketika individu yang sudah berkeluarga melakukan hubungan intim dengan orang lain yang bukan pasangan sahnya. Perbuatan ini tidak hanya melanggar ketentuan Tuhan, tetapi juga dapat merusak hubungan pernikahan yang ada serta menyakiti perasaan pasangan yang sebenarnya. Tindakan ini tidak hanya terbatas bagi yang menikah, sebab mereka yang belum menikah juga bisa disebut berzinah jika melakukan pelecehan atau bahkan hanya berkeinginan memiliki tubuh orang lain. Oleh karena itu, kesetiaan terhadap pasangan yang telah Tuhan percayakan dalam hidup kita sangatlah penting.

Bersaksi dusta atau fitnah: Ini adalah tindakan ketika seseorang mengucapkan sesuatu yang tidak benar tentang orang lain atau suatu situasi, dengan maksud untuk merusak reputasi orang tersebut. Tindakan ini jelas memiliki dampak yang sangat besar bagi kehidupan seseorang. Oleh sebab itu, merenungkan dan mendalami Firman Tuhan setiap hari akan membuat kita lebih berhati-hati dalam berbicara dan bertindak (Yosua 1:8).

Mengidamkan barang milik orang lain: Ketika kita menginginkan barang milik orang lain dengan niat jahat untuk mendapatkan barang tersebut, itu menjadi masalah. Namun, menginginkan barang orang lain bisa diterima jika disertai niat yang baik, seperti motivasi yang positif untuk memperoleh barang dengan cara yang benar atau berusaha keras.

TUHAN YESUS MEMBERKATI

Translate